Wabup Ketapang Jamhuri Amir memimpin rapat evaluasi Perumda Tirta Pawan, membahas peningkatan pelayanan air bersih, efisiensi operasional, dan penguatan kontribusi terhadap PAD daerah.
Rapat tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Ketapang dalam memastikan optimalisasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), khususnya dalam pelayanan air bersih kepada masyarakat sekaligus mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dalam arahannya, Wakil Bupati menegaskan bahwa keberadaan Perumda Air Minum tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan publik, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah.
“Pemerintah daerah sebagai pemegang saham tunggal perlu mengetahui secara detail kondisi perusahaan, apakah dalam keadaan sehat atau tidak. Dari situ kita dapat menentukan langkah strategis ke depan,” tegas Jamhuri Amir.
Ia menekankan pentingnya pembenahan tata kelola perusahaan melalui penerapan manajemen yang profesional, efisien, transparan, dan berorientasi pada kinerja.
“Tidak boleh ada mindset bahwa untung atau rugi tidak menjadi persoalan. Perusahaan daerah harus dikelola dengan prinsip bisnis yang sehat, transparan, dan akuntabel,” ujarnya.
Selain itu, Wabup meminta jajaran Perumda Tirta Pawan melakukan identifikasi menyeluruh terhadap berbagai persoalan yang dihadapi, termasuk peluang peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional. Pemerintah daerah, kata dia, juga membuka ruang untuk langkah strategis, termasuk restrukturisasi manajemen apabila dibutuhkan.
Sementara itu, Direktur Perumda Air Minum Tirta Pawan, L. Yudiharto J. Saptono, memaparkan bahwa jumlah pelanggan hingga akhir 2025 mencapai 17.199 pelanggan dengan 15.169 pelanggan aktif. Hingga Maret 2026, angka tersebut meningkat menjadi 17.582 pelanggan dengan 15.561 pelanggan aktif.
Dari sisi operasional, kapasitas instalasi pengolahan air (IPA) saat ini mencapai 170 liter per detik dan melayani lima kecamatan, yakni Delta Pawan, Benua Kayong, Kendawangan, Tumbang Titi, dan Marau. Namun, kapasitas tersebut dinilai belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus meningkat.
Perumda Tirta Pawan juga masih menghadapi tantangan tingginya tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) yang mencapai 34,12 persen. Angka tersebut masih berada jauh di atas standar nasional sebesar 25 persen.
Menurut Yudiharto, penurunan tingkat NRW menjadi salah satu peluang besar untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mendongkrak pendapatan perusahaan.
Dari aspek keuangan, Perumda Tirta Pawan menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah mengalami kerugian pada periode 2021 hingga 2023, perusahaan mulai mencatat laba pada 2024 meski relatif kecil. Namun, laba kembali mengalami penurunan pada 2025 akibat faktor teknis dan kondisi darurat operasional.
Meski demikian, hasil evaluasi terbaru menempatkan Perumda Tirta Pawan dalam kategori “sehat”. Kendati demikian, sejumlah aspek dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama terkait pelayanan pelanggan dan efisiensi operasional.
Menutup rapat, Wakil Bupati berharap Perumda Tirta Pawan segera melakukan langkah pembenahan yang konkret dan terukur agar mampu meningkatkan kualitas layanan air bersih sekaligus memperkuat kontribusi terhadap PAD Kabupaten Ketapang.
“Perusahaan ini tidak hanya hadir untuk melayani, tetapi juga harus mampu memberikan nilai tambah bagi daerah. Kita ingin ke depan Perumda ini benar-benar sehat, profesional, dan dipercaya masyarakat,” pungkasnya.***(jk)
Komentar0