Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

Advertisement

ARTIKEL 9-14 (6 artikel)

@anantapost2025

ARTIKEL

ARTIKEL SLIDE

Selasa, 08 September 2026

Kemarau Melanda, Laskar Jagadilaga Ketapang Turun Salurkan Air Bersih ke Warga Mulia Baru

Laskar Jagadilaga Ketapang menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Kelurahan Mulia Baru, Delta Pawan, di tengah dampak musim kemarau.

Anantapost.com - Ketapang. Musim kemarau mulai berdampak pada kebutuhan air bersih warga. Melihat kondisi tersebut, Laskar Jagadilaga Ketapang turun langsung membantu masyarakat dengan mendistribusikan air bersih ke warga Kelurahan Mulia Baru, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Selasa (8/9/2026).

Aksi kemanusiaan tersebut dipimpin langsung Panglima Besar Laskar Jagadilaga Ketapang, Daniel. Bantuan air bersih disalurkan secara langsung ke kawasan permukiman warga yang terdampak kekeringan.
Daniel mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan empati Laskar Jagadilaga terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan di tengah musim kemarau.

“Ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada masyarakat. Ketika warga membutuhkan bantuan, kami berupaya hadir dan mengambil bagian sesuai kemampuan yang kami miliki,” tegas Daniel, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, persoalan kebutuhan air bersih tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kepedulian berbagai elemen masyarakat.
Karena itu, Laskar Jagadilaga berkomitmen untuk mengambil bagian dalam membantu warga, terutama ketika kebutuhan dasar seperti air bersih mulai sulit diperoleh.

Gotong Royong Hadapi Kekeringan
Koordinator Aksi, Panglima Muda Hj. Salman alias Bacok, mengatakan penyaluran air bersih tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung permukiman warga.
Ia menyebut aksi tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata semangat gotong royong untuk membantu masyarakat menghadapi dampak musim kemarau.

“Melalui aksi sosial ini, Laskar Jagadilaga Ketapang berharap bantuan yang diberikan dapat membawa manfaat langsung kepada masyarakat yang terdampak kekeringan,” ujar Salman.

Ia menambahkan, bantuan air bersih diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan harian warga, sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan kekeringan membutuhkan kepedulian bersama.

Laskar Jagadilaga Ketapang berharap aksi tersebut dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendorong lebih banyak pihak untuk ikut bergerak membantu warga yang terdampak musim kemarau.

Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah cepat untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.***(jok) 

Senin, 31 Agustus 2026

Bupati Ketapang Pimpin Islah Sengketa Lahan, Masyarakat dan Perusahaan Sepakat Berdamai

Bupati Ketapang Alexander Wilyo memimpin musyawarah penyelesaian sengketa lahan antara masyarakat dan PT Prakarsa Tani Sejati (PTS), mendorong tercapainya kesepakatan islah dan suasana kondusif.

Anantapost.com - Ketapang. Sengketa lahan antara masyarakat dan perusahaan di Kabupaten Ketapang akhirnya menemukan titik terang. Pemerintah Kabupaten Ketapang berhasil mempertemukan Kelompok Tani Penjurung Tapah Turus (PTT) Desa Merimbang Jaya dengan PT Prakarsa Tani Sejati (PTS) dalam forum musyawarah yang berujung pada kesepakatan islah.
Musyawarah tersebut dipimpin langsung Bupati Ketapang di Ruang Rapat Kantor Bupati Ketapang, Senin (31/8/2026). Pertemuan itu menjadi tindak lanjut mediasi yang sebelumnya digelar pada 24 Agustus 2026.
Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran manajemen PT PTS, perwakilan masyarakat Desa Merimbang Jaya, Pemerintah Kecamatan Sandai, Pemerintah Desa Merimbang Jaya, Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta sejumlah pihak terkait.

Dalam musyawarah itu, Bupati Ketapang meminta seluruh pihak mengedepankan sikap terbuka dan menahan diri agar persoalan yang telah berlangsung cukup lama dapat diselesaikan secara damai.

Menurutnya, penyelesaian sengketa tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan masing-masing pihak. Yang jauh lebih penting adalah menjaga hubungan sosial, menghadirkan rasa keadilan, serta memastikan kepastian dan manfaat bagi masyarakat.

Sepakat Tambahan Lahan Kemitraan 20 Persen

Pembahasan yang berlangsung secara konstruktif akhirnya menghasilkan kesepakatan. Kedua belah pihak menyatakan sepakat menyelesaikan persoalan melalui mekanisme islah.
Salah satu poin utama kesepakatan yakni pemberian tambahan lahan kemitraan sebesar 20 persen dari luas lahan yang menjadi objek persoalan, dengan luas mencapai 227,09 hektare, kepada pemilik lahan.

Direktur PT PTS, Ir. Berimo Mahendra, memastikan pihak perusahaan menerima hasil musyawarah yang dipimpin Bupati Ketapang tersebut.

“Kami menerima 100 persen apa yang Bapak Bupati minta. Dari pihak masyarakat Merimbang juga sudah menerima. Jadi kita semua sudah menerima keputusan beliau,” kata Berimo.

Tak hanya menyelesaikan persoalan lahan, kesepakatan tersebut juga menjadi jalan keluar terhadap proses hukum yang selama ini berjalan.

PT PTS sepakat mencabut laporan terhadap masyarakat yang telah disampaikan kepada kepolisian. Sebaliknya, Kelompok Tani Penjurung Tapah Turus (PTT) juga menyatakan kesediaannya mencabut gugatan perdata yang telah diajukan ke pengadilan.

Bupati: Mulai Islah dari Nol

Bupati Ketapang menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukan sekadar mengakhiri sengketa, tetapi harus menjadi awal untuk membangun kembali hubungan baik antara masyarakat dan perusahaan.
Ia meminta seluruh pihak menjaga suasana tetap kondusif setelah laporan kepolisian dan gugatan perdata dicabut.

“Kita mulai islah dari nol. Setelah semua laporan dan gugatan dicabut, kita sama-sama menjaga kondisi tetap kondusif dan tidak melakukan tindakan yang melawan hukum,” tegasnya.

Tahapan berikutnya akan difokuskan pada pembahasan teknis pengelolaan lahan kemitraan. Pembahasan akan dilakukan bersama antara PT PTS, Kelompok Tani Penjurung Tapah Turus, 

Pemerintah Desa Merimbang Jaya, dan Pemerintah Kecamatan Sandai.
Hasil pembahasan tersebut nantinya dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) kemitraan dengan pola manajemen satu atap dan selanjutnya dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Ketapang.
Bupati juga meminta proses realisasi kemitraan dilakukan secara transparan dan terkoordinasi. Menurutnya, kesepakatan yang telah dicapai harus benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari Konflik Menuju Kepercayaan

Penandatanganan Berita Acara Kesepakatan menjadi penanda berakhirnya salah satu rangkaian panjang persoalan antara masyarakat dan perusahaan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Ketapang, keberhasilan mencapai kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang rumit sekalipun dapat diselesaikan apabila seluruh pihak mengedepankan dialog, kepala dingin, dan niat baik.
Bupati menegaskan, pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari investasi maupun pembangunan infrastruktur. Harmoni sosial, keadilan, kepastian hukum, dan penghormatan terhadap masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembangunan.

“Islah bukan hanya tentang mengakhiri sengketa, tetapi bagaimana kita memulihkan hubungan dan membangun kembali kepercayaan,” ujarnya.

Kesepakatan antara masyarakat Desa Merimbang Jaya dan PT PTS diharapkan menjadi awal baru bagi hubungan yang lebih harmonis serta membuka ruang kerja sama yang saling menguntungkan.

Dari musyawarah lahir kesepakatan. Dari kesepakatan tumbuh islah, dan dari islah diharapkan kembali tumbuh kepercayaan demi menciptakan Ketapang yang aman, kondusif, maju, dan berkeadilan.***(jk) 


Jumat, 28 Agustus 2026

Tim Supervisi Mabes TNI Turun 30 Hari, Pemda Ketapang Fokus Tekan Ancaman Karhutla

Sinergi bersama untuk memperkuat penanganan dan pencegahan karhutla di Kabupaten Ketapang.

Anantapost.com — Ketapang. Meningkatnya titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah membuat Pemerintah Kabupaten Ketapang memperkuat langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bupati Ketapang Alexander Wilyo memimpin langsung rapat koordinasi bersama Tim Supervisi Mabes TNI di Ruang Rapat Kantor Bupati Ketapang, Kamis (27/8/2026). Rapat tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi seluruh unsur dalam menghadapi ancaman karhutla yang kembali meningkat.
Hadir dalam rapat itu Wakil Bupati Ketapang, jajaran TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perangkat daerah, pihak bandara, perwakilan perusahaan, serta sejumlah instansi terkait lainnya.

Alexander Wilyo menegaskan, karhutla bukan persoalan yang dapat ditangani oleh satu institusi saja. Menurutnya, seluruh elemen harus bergerak bersama dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.

“Kita harus mengerahkan seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada. Penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Semua elemen harus bergerak bersama, termasuk TNI-Polri, perusahaan, dan masyarakat,” tegas Alexander.

Kebakaran Gambut Jadi Perhatian
Dalam rapat tersebut, Bupati juga menyoroti kebakaran yang terjadi di kawasan gambut, khususnya wilayah Jalan Pelang.

Menurutnya, karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman jauh lebih sulit. Kondisi lahan yang kering, terbatasnya sumber air, serta akses menuju lokasi menjadi sejumlah kendala yang harus segera diantisipasi.
Kebakaran di lahan gambut, lanjutnya, tidak hanya terjadi di permukaan. Api dapat bertahan dan merambat melalui lapisan bawah tanah sehingga membutuhkan metode penanganan yang lebih serius dan terpadu.
Karena itu, Alexander meminta seluruh unsur yang terlibat tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan.

Perusahaan Diminta Kerahkan Sumber Daya

Pemkab Ketapang juga meminta perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut ikut mengambil peran lebih besar dalam pengendalian karhutla.

Dukungan perusahaan diharapkan mencakup pengerahan peralatan pemadam, pembangunan sekat api, penyediaan sumur bor, hingga dukungan logistik bagi personel yang bertugas di lapangan.

“Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Karhutla adalah persoalan bersama sehingga penanganannya juga harus dilakukan secara bersama-sama,” ujar Alexander.

Ia menekankan, seluruh perusahaan harus mengoptimalkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, terutama ketika ancaman kebakaran meningkat di sejumlah wilayah Ketapang.

Tim Supervisi Mabes TNI Turun ke Masyarakat

Sementara itu, Tim Supervisi Mabes TNI menyampaikan rencana pelaksanaan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat selama kurang lebih 30 hari.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya dan dampak karhutla.

Selain memberikan edukasi, tim juga akan menyerap informasi terkait persoalan dan kendala yang ditemukan di lapangan. Temuan tersebut nantinya menjadi bahan koordinasi dan evaluasi bersama, termasuk untuk disampaikan kepada pemerintah pusat.

Alexander meminta jajaran Pemkab Ketapang segera mendampingi tim dalam menentukan desa serta wilayah yang dinilai rawan karhutla sebagai sasaran kegiatan penyuluhan.

“Persoalan yang kita hadapi harus disampaikan apa adanya agar solusi dari pusat tepat sasaran. Selain penanganan di lapangan, pencegahan dan penyuluhan kepada masyarakat juga harus terus dilakukan,” katanya.

Dorong Penambahan Helikopter
Selain memperkuat Satgas Darat, Pemkab Ketapang juga mendorong peningkatan dukungan penanganan karhutla melalui jalur udara.

Salah satu langkah yang didorong yakni penambahan armada helikopter untuk mempercepat proses pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dukungan udara dinilai penting mengingat sejumlah titik kebakaran berada di lokasi dengan akses terbatas dan medan yang sulit.
Bupati menilai, kemampuan memadamkan api bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan karhutla. Pencegahan harus menjadi prioritas melalui peningkatan kesadaran masyarakat, kesiapsiagaan seluruh pihak, serta kepatuhan terhadap larangan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Ketapang Rumah Besar Bersama

Di penghujung rapat, Alexander mengajak seluruh masyarakat memperkuat semangat gotong royong dalam mencegah dan menanggulangi karhutla.

“Kita berikhtiar dengan seluruh kemampuan yang ada, sambil memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar Kabupaten Ketapang dan Kalimantan Barat dijauhkan dari bencana serta tidak ada lagi korban jiwa akibat karhutla,” ungkapnya.

Menurut Alexander, upaya bersama menghadapi karhutla bukan sekadar penanganan bencana, tetapi juga bentuk komitmen menjaga Ketapang sebagai rumah besar bagi seluruh masyarakat.
Pemerintah, TNI-Polri, perusahaan dan masyarakat dinilai memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran.

Langkah tersebut juga sejalan dengan Misi Keenam Kabupaten Ketapang, yakni pemanfaatan sumber daya alam secara berkeadilan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Melalui penguatan pencegahan, penanganan di lapangan, edukasi masyarakat, serta perlindungan kawasan hutan dan lahan, Pemkab Ketapang berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus melindungi keselamatan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, 

keberhasilan penanganan karhutla tidak semata-mata diukur dari menurunnya jumlah hotspot atau luas lahan terbakar. Lebih jauh, keberhasilan harus ditandai dengan tumbuhnya kesadaran kolektif seluruh masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Ketapang adalah rumah besar bersama. Menjaganya dari ancaman karhutla merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.***(jk) 

Kamis, 27 Agustus 2026

Karhutla Mengganas di Sungai Awan Kanan, Bupati Ketapang Turun Langsung ke Garis Depan

Bupati Ketapang Alexander Wilyo turun langsung ke lokasi karhutla di Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan. Bersama petugas, ia ikut berjibaku memadamkan api dan mencegah kebakaran meluas.

Anantapost.com — Ketapang. Bupati Ketapang Alexander Wilyo turun langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Rabu (26/8/2026).

Lokasi kebakaran yang berada di kawasan berbatasan dengan Desa Tanjungpura tersebut dikepung asap tebal dan kobaran api. Alexander bersama jajaran lintas instansi langsung bergerak ke sejumlah titik untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api meluas.
Tak hanya melakukan pemantauan, Bupati bahkan ikut berada di garis depan bersama petugas dan relawan dalam proses pemadaman.
Penanganan karhutla melibatkan BPBD Ketapang, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Pemerintah Kecamatan Muara Pawan, Pemerintah Desa Sungai Awan Kanan, Polsek Muara Pawan, Manggala Agni, Yonif TP 832 Pawan Asasta, Kodim 1203, Koramil hingga Karang Taruna.
Di tengah kondisi medan yang berat, seluruh personel bahu-membahu melakukan penyiraman dan mencari titik-titik bara yang masih berpotensi memicu munculnya api kembali.

“Di tempat seperti ini, panas tidak mengenal jabatan dan asap tidak membedakan pangkat. Semua berdiri dalam satu barisan dengan tujuan yang sama, yaitu memadamkan api, mencegahnya meluas, serta melindungi masyarakat dan lingkungan Ketapang,” ujar Alexander.

Panas dan Asap Pekat Jadi Tantangan

Proses pemadaman berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah. Suhu panas, asap pekat, lahan kering dan medan yang sulit membuat petugas harus bekerja ekstra keras.

Setiap titik bara terus disisir dan disiram. Petugas juga memastikan api tidak menjalar ke area lain.
Personel Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, pemerintah kecamatan dan desa hingga relawan mengambil peran masing-masing.
Ada yang mengoperasikan pompa, mengatur selang dan jalur pemadaman, memantau keselamatan personel hingga memberikan dukungan kesehatan.
Alexander menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama karena kebakaran yang meluas tidak mungkin ditangani oleh satu pihak saja.

“Perjuangan melawan karhutla bukan hanya tentang air yang disemprotkan ke api. Di dalamnya ada keteguhan hati, keberanian, kesabaran, dan kesediaan untuk saling menjaga,” katanya.

Petugas Dapat Dukungan Logistik

Di sela kegiatan pemadaman, pemerintah juga memberikan dukungan kepada petugas dan relawan yang berada di lapangan.
Bantuan berupa susu murni, minuman elektrolit, vitamin C dan air mineral diserahkan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi personel yang bekerja di tengah panas dan kepungan asap.
Dukungan tersebut diharapkan membantu menjaga stamina para petugas selama proses pemadaman berlangsung.

Bupati Ingatkan Warga Tak Bakar Lahan

Alexander menegaskan karhutla bukan hanya persoalan lahan yang terbakar. Dampaknya dapat dirasakan masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan, menurunnya kualitas udara hingga terganggunya aktivitas sehari-hari.
Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar.

“Kepada seluruh masyarakat, mari kita jaga Ketapang bersama. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jangan menganggap kecil api yang kita nyalakan, karena kita tidak pernah tahu seberapa jauh dampaknya ketika api kehilangan kendali,” tegasnya.

Menurut Alexander, titik api yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila tidak segera dikendalikan.

Pemimpin Harus Hadir Saat Rakyat Membutuhkan

Kehadiran langsung di lokasi karhutla, lanjut Alexander, merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan sesuai kondisi di lapangan.
Ia menilai pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi dari belakang meja, tetapi harus mengetahui langsung persoalan yang dihadapi petugas dan masyarakat.

“Kepemimpinan pada akhirnya bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi tentang seberapa dekat ia mau berada ketika rakyatnya membutuhkan,” katanya.

Dari kawasan Sungai Awan Kanan hingga perbatasan Desa Tanjungpura, seluruh unsur terus berupaya mengendalikan api.
Alexander berharap semangat gotong royong tersebut terus dijaga agar karhutla dapat segera dipadamkan dan dampaknya terhadap masyarakat maupun lingkungan bisa diminimalkan.

“Mari padamkan apinya dengan tangan kita, cegah kemunculannya dengan kesadaran kita, dan jaga Ketapang dengan kepedulian kita. Ketapang bukan hanya tempat kita tinggal. Ketapang adalah rumah yang menjadi tanggung jawab kita bersama,” pungkas Alexander.***(jk) 

Sabtu, 22 Agustus 2026

Bupati Alexander Wilyo Tegas: Perusahaan Wajib Turun Tangan Hadapi Karhutla

Bupati Ketapang Alexander Wilyo menunjukkan komitmen memperkuat penanggulangan Karhutla melalui Surat Edaran Nomor 52 Tahun 2026.


Anantapost.com — Ketapang. Pemerintah Kabupaten Ketapang memperluas keterlibatan dunia usaha dalam menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Seluruh perusahaan perkebunan, kehutanan hingga pertambangan diminta tidak hanya fokus menjaga wilayah konsesinya, tetapi juga siap membantu penanganan kebakaran di wilayah lain yang membutuhkan.
Instruksi tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 52 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Ketapang yang diterbitkan pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo menegaskan perusahaan harus mengerahkan sumber daya yang dimiliki untuk memperkuat operasi penanganan Karhutla di lapangan.
Sumber daya tersebut meliputi personel pemadam, mobil tangki air, pompa, selang, drone, perangkat komunikasi hingga kendaraan pendukung lainnya. Perusahaan juga diminta memastikan ketersediaan serta akses terhadap sumber air di wilayah operasional masing-masing.

“Bantuan ini tidak terbatas pada wilayah operasional masing-masing, melainkan mencakup seluruh wilayah Kabupaten Ketapang sesuai kebutuhan lapangan,” tegas Alexander Wilyo saat dikonfirmasi, Sabtu sore.

Menurutnya, perusahaan memiliki kekuatan sumber daya yang dapat menjadi penopang penting pemerintah daerah dalam mempercepat respons ketika terjadi Karhutla.

Armada pemadam, personel terlatih, peralatan serta fasilitas pendukung yang dimiliki perusahaan diharapkan dapat mempercepat mobilisasi dan penanganan kebakaran sebelum api semakin meluas.

Aparat Diminta Perketat Pengawasan

Tak hanya mengandalkan upaya pemadaman, Bupati Alexander juga meminta aparat penegak hukum memperketat pengawasan terhadap potensi pembakaran hutan dan lahan.

TNI dan Polri diminta meningkatkan patroli, khususnya di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan Karhutla tinggi. Setiap laporan maupun temuan titik api harus segera ditindaklanjuti.

Alexander menegaskan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran harus dilakukan secara tegas sesuai aturan yang berlaku.

“Penanganan Karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman. Pencegahan dan penegakan hukum harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Desa dan Masyarakat Diminta Waspada

Pemerintah kecamatan dan desa juga mendapat instruksi untuk memperkuat patroli serta deteksi dini di wilayah masing-masing.
Camat, lurah dan kepala desa diminta memastikan wilayahnya dalam kondisi siaga. Setiap kemunculan titik api maupun indikasi asap harus segera dilaporkan kepada BPBD Kabupaten Ketapang.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan. Warga yang menemukan titik api diimbau segera melapor dan tidak menghambat petugas saat melakukan proses pemadaman.
Apabila terjadi kabut asap, masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan sebagai langkah perlindungan terhadap dampak asap.

Semua Kekuatan Dikerahkan
Penanganan Karhutla di Ketapang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, perusahaan, TNI-Polri, Manggala Agni, KPH, pemerintah desa hingga masyarakat.

Alexander menegaskan seluruh potensi yang ada harus dioptimalkan untuk menghadapi ancaman Karhutla.

“Selain prasarana yang dimiliki pemerintah, perusahaan juga diharapkan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki sebagai bentuk tanggung jawab bersama melindungi masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan pembangunan daerah,” pungkasnya.***(jok


Kemarau Kian Mengkhawatirkan, IKKRAMAT Ketapang Gelar Shalat Istisqa

ikramat laksanakan sholat istisqa

Anantapost.com
- Ketapang. Kemarau panjang yang masih melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendorong Dewan Mangku Ikatan Keluarga Besar Kerajaan Matan Tanjungpura (DM IKKRAMAT) mengajak masyarakat melakukan ikhtiar bersama melalui Shalat Istisqa.

Ketua Umum DM IKKRAMAT, Uti Royden Top, S.M., mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hujan segera turun membawa manfaat, kesejukan, dan keberkahan bagi Ketapang.
Shalat Istisqa dijadwalkan digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, pukul 07.00 WIB, di halaman Keraton Kerajaan Matan Tanjungpura, Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong.

Pelaksanaan ibadah tersebut terbuka bagi masyarakat umum. Ustadz Warman Abdullatif dipercaya menjadi imam sekaligus khatib dalam kegiatan tersebut.
Sebelum menetapkan pelaksanaan Shalat Istisqa, Dewan Mangku IKKRAMAT telah melakukan musyawarah bersama Dewan Sepuh, jajaran pengurus, serta para alim ulama.

Menurut Uti Royden Top, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar spiritual masyarakat menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan.

“Kita melakukan ikhtiar bersama sebelum dampak kemarau semakin meluas. Jangan sampai masyarakat mengalami kesulitan air bersih yang lebih berat dan berdampak terhadap kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, pelaksanaan Shalat Istisqa merupakan ibadah yang ditujukan untuk memohon pertolongan Allah SWT.

“Shalat merupakan ibadah kepada Allah SWT dan tidak memerlukan izin manusia,” tegas Uti.

Meski kebutuhan air minum sebagian masyarakat masih dapat dipenuhi melalui penjual maupun penyedia air galon, IKKRAMAT menilai persoalan kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Karena itu, doa dan ikhtiar bersama dinilai penting untuk memohon agar hujan segera turun dan kondisi lingkungan di Ketapang kembali segar.

IKKRAMAT juga mengapresiasi langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Tumbang Titi yang terlebih dahulu menggelar Shalat Istisqa pada Jumat, 21 Agustus 2026, di halaman Masjid Besar Al-Hidayah, Kecamatan Tumbang Titi.
IKKRAMAT berharap kegiatan serupa dapat diikuti organisasi keagamaan maupun elemen masyarakat lainnya di berbagai wilayah Kabupaten Ketapang.
Panitia mengimbau jamaah yang hadir membawa perlengkapan ibadah masing-masing, termasuk sajadah serta syal atau selendang.
Melalui Shalat Istisqa, istigfar, dan doa bersama, masyarakat diharapkan terus memperkuat ikhtiar menghadapi kemarau panjang sembari memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang bermanfaat dan penuh keberkahan bagi Kabupaten Ketapang dan sekitarnya.

Undangan resmi kegiatan tersebut diterbitkan pada 19 Agustus 2026 dan ditandatangani Ketua Umum Dewan Mangku IKKRAMAT Uti Royden Top, S.M., bersama Sekretaris Gusti M. Jamaluddin, S.H

Editor: jok

Rabu, 19 Agustus 2026

Kekeringan Ekstrem Landa Pulau Maya, Lima Desa Krisis Air Bersih

Krisis air bersih melanda, kebutuhan air bersih kini semakin mendesak. 

Anantapost.com
- Kayong Utara, Kekeringan ekstrem akibat kemarau panjang mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kecamatan Pulau Maya Karimata menjadi salah satu wilayah yang dilaporkan paling parah terdampak.

Sedikitnya lima desa dilaporkan mengalami kondisi darurat air bersih. Sumur warga mengering, sementara persediaan air hujan yang selama ini menjadi andalan masyarakat mulai kritis bahkan sebagian telah habis.
Kondisi tersebut membuat warga Desa Kamboje dan Desa Dusun Kecil terpaksa memanfaatkan air parit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ironisnya, air tersebut disebut bercampur lumpur dan terdampak jerebu asap sisa kebakaran lahan.

Untuk kebutuhan konsumsi, warga masih mengandalkan sisa air hujan yang ditampung. Namun, persediaan tersebut semakin menipis setelah digunakan selama musim kemarau.

Ujang, warga Desa Kamboje, mengatakan masyarakat saat ini sangat membutuhkan pasokan air bersih dari pemerintah.

“Kalau sekarang ini, kami sangat perlu sekali air bersih. Sumur sudah kering. Air hujan yang dipakai selama musim panas ini juga sudah habis,” kata Ujang kepada media ini, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, keterbatasan air membuat warga tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan air parit untuk mandi dan berbagai kebutuhan rumah tangga.

“Terpaksa air parit yang bercampur lumpur dan debu asap bekas kebakaran dipakai untuk sehari-hari,” ujarnya.

Ujang berharap Pemerintah Kabupaten Kayong Utara segera mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak. Ia juga meminta pemerintah membangun sumur bor sebagai solusi jangka panjang.
Selain pemerintah, ia berharap perusahaan yang mengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), PT Dharma Inti Bersama (DIB), turut membantu masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan air bersih.

Lima Desa Dilaporkan Terdampak Parah

Berdasarkan laporan masyarakat, desa yang mengalami kondisi kekeringan dan krisis air bersih di wilayah Pulau Maya Karimata meliputi Desa Dusun Besar, Desa Dusun Kecil, Desa Kamboje, Desa Satai Lestari hingga Desa Tanjung Satai.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kayong Utara, Alias Syahroni, mengatakan kekeringan saat ini dirasakan di sejumlah wilayah Kayong Utara.

Namun, kondisi geografis membuat wilayah Pulau Maya Karimata menjadi salah satu kawasan yang paling membutuhkan perhatian.

“Memang kondisi kekeringan ini dirasakan cukup merata di wilayah Kabupaten Kayong Utara. Tetapi karena kondisi geografis, wilayah Pulau Maya menjadi salah satu yang paling parah,” kata Alias.

Ia menyebut sumber air warga yang berasal dari sumur telah banyak mengering. Sementara itu, cadangan air hujan yang selama ini menjadi alternatif utama juga mulai habis.

Alias mendesak pemerintah daerah bergerak cepat agar kebutuhan dasar masyarakat tersebut segera terpenuhi.

“Pendistribusian air bersih sangat urgen buat masyarakat Pulau Maya saat ini. Saya juga berharap pihak swasta mengambil bagian,” tegasnya.

Minta Investor Ikut Turun Tangan

Alias juga mendorong perusahaan dan investor yang beroperasi di Kayong Utara ikut berkontribusi membantu masyarakat terdampak.
Menurutnya, bantuan dari pihak swasta selama ini belum sepenuhnya menjangkau masyarakat di Pulau Maya Karimata. Salah satu kendalanya adalah akses transportasi menuju wilayah tersebut.

“Memang Kecamatan Pulau Maya ini sulit akses jalur darat. Sehingga dalam pendistribusian bantuan air bersih, Pemda perlu berkolaborasi dengan pihak swasta, terutama investor di Penebang,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah, dunia usaha dan pihak terkait segera membangun koordinasi agar distribusi air bersih tidak hanya menyasar wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga masyarakat di kawasan yang mengalami krisis paling parah.

Krisis air bersih ini kini menjadi persoalan mendesak bagi warga Pulau Maya. Pemerintah daerah dan pihak swasta dituntut bergerak cepat sebelum kondisi kekeringan semakin berdampak terhadap kebutuhan dasar masyarakat.***(red
Banner Promosi
Banner Promosi