Ikuti kami:
Bupati Ketapang Alexander Wilyo berfoto bersama 34 siswa Program Sekolah Rakyat Terintegrasi usai prosesi pelepasan menuju Pontianak. Program ini diharapkan menjadi jalan bagi generasi muda untuk meraih pendidikan yang lebih baik dan mewujudkan masa depan yang lebih cerah.
Anantapost.com – Ketapang. Sebanyak 34 peserta didik Program Sekolah Rakyat asal Kabupaten Ketapang resmi dilepas menuju Kota Pontianak untuk mengikuti Tahun Ajaran 2026/2027. Pelepasan dilakukan langsung oleh Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, pada Senin (27/7/2026) malam.
Para siswa dijadwalkan berangkat melalui jalur darat pada Selasa (28/7/2026). Dari total peserta, empat orang merupakan siswa jenjang Sekolah Dasar (SD), sedangkan 30 lainnya merupakan siswa jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).
Dalam sambutannya, Alexander Wilyo menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menjadi upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
"Program ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pendidikan adalah hak setiap warga negara dan menjadi jalan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik serta memutus mata rantai kemiskinan," ujar Alexander.
Ia juga meminta seluruh kepala desa di Kabupaten Ketapang aktif menyampaikan informasi mengenai Program Sekolah Rakyat kepada masyarakat, terutama warga di daerah pedalaman yang masih memiliki keterbatasan akses informasi.
Menurutnya, sosialisasi yang maksimal akan membuka peluang lebih besar bagi anak-anak di pelosok untuk mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang layak.
Selain itu, Bupati meminta Dinas Sosial memberikan pendampingan kepada calon peserta didik yang mengalami kendala administrasi agar tidak kehilangan kesempatan hanya karena persoalan dokumen.
"Kita jangan sampai membiarkan anak-anak yang ingin sekolah gagal hanya karena urusan administrasi. Semangat mereka untuk belajar harus menjadi prioritas," tegasnya.
Kepada para orang tua, Alexander juga mengimbau agar tidak khawatir melepas anak-anak mereka menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 53 Pontianak. Ia memastikan seluruh kebutuhan para siswa telah menjadi tanggung jawab negara.
"Anak-anak kita dijamin oleh negara. Mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat, seluruh kebutuhan mereka akan didampingi dan diperhatikan oleh para guru sebagaimana orang tua merawat anak di rumah," katanya.
Ia pun berpesan kepada seluruh siswa agar tetap disiplin dan menyelesaikan pendidikan hingga lulus.
"Dari 30 siswa SMA yang berangkat, saya berharap semuanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai tamat. Jangan sampai setelah pulang saat libur justru tidak kembali ke sekolah," pesannya.
Sebagai bentuk apresiasi,
Pemerintah Kabupaten Ketapang juga berencana memberikan penghargaan kepada siswa yang mampu meraih prestasi selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ketapang, Drs. Satuki, menjelaskan bahwa Kabupaten Ketapang sebenarnya telah memiliki Sekolah Rakyat Terintegrasi 52 yang mulai beroperasi sejak tahun ajaran 2025/2026.
Namun, untuk penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027, kegiatan belajar belum dapat dilaksanakan di Ketapang karena kapasitas gedung sementara yang memanfaatkan fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) masih terbatas.
Akibat kondisi tersebut, Kementerian Sosial memutuskan 34 siswa baru untuk sementara mengikuti proses belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 53 Pontianak hingga pembangunan gedung permanen di Kabupaten Ketapang selesai.
"Pemerintah Kabupaten Ketapang telah menyiapkan lahan seluas 7,019 hektare di Kecamatan Nanga Tayap. Seluruh persyaratan daerah juga sudah dipenuhi dan saat ini kami terus berkoordinasi dengan Kementerian Sosial serta Kementerian Pekerjaan Umum agar pembangunan sekolah dapat segera direalisasikan. Harapan kami, pembangunan sudah dimulai pada tahun 2027," jelas Satuki.
Ia mengungkapkan proses penjaringan calon siswa dilakukan secara langsung dengan mendatangi rumah-rumah warga. Dari hampir 8.000 anak yang berhasil dijangkau dalam waktu sekitar dua bulan, hanya 40 orang yang menyatakan berminat mengikuti Program Sekolah Rakyat.
Setelah melalui proses verifikasi dan seleksi, akhirnya ditetapkan 34 peserta didik yang terdiri dari empat siswa SD dan 30 siswa SMA. Sementara kuota jenjang SMP belum dapat terpenuhi karena belum ada peserta yang memenuhi persyaratan.
Satuki juga mengajak para orang tua untuk memberikan dukungan penuh kepada anak-anak mereka selama menjalani pendidikan.
"Perpisahan ini hanya sementara. Orang tua harus mengikhlaskan anak-anaknya menuntut ilmu, terus memberikan doa, semangat, dan motivasi agar mereka dapat belajar dengan baik serta meraih masa depan yang lebih cerah," pungkasnya.***(jok)
REKOMENDASI
- Memuat artikel...