Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

Advertisement

Senin, 29 Juni 2026

Tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong Kembali Digelar, Wabup Jamhuri Amir Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya

Ikuti kami:
Prosesi pencucian senjata pusaka berlangsung khidmat sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah dan warisan budaya leluhur Melayu-Bugis.

Anantapost.com
- Ketapang. Tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong kembali dilaksanakan oleh masyarakat Melayu-Bugis Kabupaten Ketapang di halaman Pendopo Bupati Ketapang, Minggu (28/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi simbol pelestarian warisan budaya sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan leluhur.

Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, jajaran Forkopimda, organisasi perangkat daerah (OPD), tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi Melayu dan Bugis dari Kabupaten Ketapang maupun Kabupaten Kayong Utara, serta masyarakat umum.
Selain prosesi pencucian senjata pusaka, kegiatan juga diisi dengan pembacaan sumpah setia Melayu-Bugis sebagai bentuk komitmen menjaga nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tradisi ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan memiliki nilai historis dan filosofis yang sangat penting.

"Tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong bukan sekadar seremoni belaka, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam. Kegiatan ini merupakan simbol penghormatan terhadap sejarah, leluhur, serta nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan kepada generasi-generasi penerus," ujar Jamhuri.

Ia menilai tradisi tersebut mengandung pesan tentang pentingnya menjaga persatuan, kebersamaan, toleransi, dan tanggung jawab dalam merawat kekayaan budaya daerah.

Menurutnya, warisan budaya lokal merupakan aset yang tak ternilai karena selain menjadi identitas daerah, juga menjadi modal sosial dalam membangun masyarakat yang berkarakter.

"Warisan budaya merupakan aset yang tidak ternilai, bukan hanya sebagai ciri khas daerah, tetapi juga sebagai modal sosial dalam membangun masa depan yang berkarakter, berbudaya, dan bertanggung jawab," katanya.

Jamhuri juga memastikan Pemerintah Kabupaten Ketapang akan terus mendukung berbagai program pelestarian budaya agar tradisi daerah tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat persaudaraan masyarakat sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengenal dan menjaga budaya leluhur.

"Saya juga berharap generasi muda dapat mengenal, mencintai, dan melestarikan tradisi-tradisi luhur yang menjadi warisan para leluhur kita, sehingga nilai-nilai budaya Tanah Kayong tetap hidup, lestari, dan terjaga sepanjang masa di tengah masyarakat," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pencucian Pusake Tanah Kayong, Rion Sardi, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi yang telah lama tidak dilaksanakan oleh masyarakat Melayu-Bugis Ketapang.
Ia menjelaskan, senjata pusaka yang dibersihkan merupakan peninggalan para leluhur yang selama bertahun-tahun tidak pernah disucikan maupun dirawat.

"Kami masyarakat Melayu-Bugis Kabupaten Ketapang pada malam hari ini melestarikan peninggalan sejarah budaya orang tua kami, yaitu pusaka yang sudah lama sekali tidak pernah dijamah, tidak pernah disucikan, dan tidak pernah dibersihkan. Malam hari ini kami menyucikan kembali peninggalan sejarah dari nenek moyang kami," jelas Rion.

Rion berharap generasi muda tidak melupakan sejarah serta adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur. Menurutnya, budaya akan perlahan menghilang apabila tidak dipelajari dan dilestarikan.

Ia menyebut pelaksanaan tahun ini menjadi momen bersejarah karena merupakan kali pertama tradisi tersebut kembali digelar setelah puluhan tahun vakum.

"Ini kegiatan perdana. Di usia saya 43 tahun, saya belum pernah melaksanakan acara seperti ini. Harapan kami, ke depan kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Ketapang agar anak cucu kita jangan pernah melupakan adat budaya Melayu yang telah lahir dari nenek moyang kita," ungkapnya.

Rion menambahkan, masyarakat Melayu tidak menetapkan tanggal tertentu dalam pelaksanaan tradisi pencucian pusaka. Prosesi tersebut cukup dilaksanakan pada bulan Muharam tanpa harus bertepatan dengan 1 Muharam, 1 Suro, ataupun 13 Muharam.

"Kalau kita Melayu pencucian senjata ini tidak ditentukan di satu Muharam. Namun kita ditentukan di bulan Muharam. Saya tidak bisa memutuskan bahwa harus 13 Muharam, namun acara ini akan dilaksanakan setiap bulan Muharam," pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Melayu-Bugis berharap tradisi Pencucian Pusake Tanah Kayong dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan, menjaga identitas budaya, serta mewariskan nilai-nilai leluhur kepada generasi mendatang.***(red
Diterbitkan: anantapost
Google Logo Add on Google
  
Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar
Banner Promosi
Banner Promosi