Ikuti kami:
Arifin mulai merantau ke Kabupaten Ketapang pada 2011. Sejak pertama kali datang, ia memilih berjualan pentol kuah di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Kantor, Kecamatan Delta Pawan, dan hingga kini tetap menjalani profesi yang sama.
"Dari Semarang, Jawa Tengah. Saya datang ke Ketapang tahun 2011 dan langsung mulai berjualan di sini," ujar Arifin kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).
Setiap hari, ia memulai aktivitas berdagang sekitar pukul 15.00 WIB. Gerobaknya melayani pelanggan hingga malam hari, bahkan tak jarang baru tutup sekitar pukul 23.00 WIB.
Dari usaha sederhana tersebut, Arifin berhasil membesarkan tiga anak. Kini, ia juga telah memiliki enam cucu yang menjadi bagian dari kebahagiaan keluarganya.
Namun, kondisi usaha yang dijalaninya saat ini tidak lagi semudah beberapa tahun silam. Menurutnya, meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok dan biaya operasional membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
"Dulu lebih ramai, terutama saat akhir pekan. Sekarang harga kebutuhan banyak naik, termasuk BBM. Mungkin masyarakat lebih fokus memenuhi kebutuhan utama daripada membeli jajanan," katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Arifin membawa sekitar 10 kilogram bakso berbahan dasar daging sapi setiap harinya. Jika seluruh stok habis terjual, omzet kotor yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp3 juta.
Meski demikian, pendapatan tersebut belum termasuk berbagai pengeluaran yang harus ditanggung untuk operasional usaha.
"Kalau habis semua, omzetnya sekitar Rp3 juta. Tapi itu masih pendapatan kotor," jelasnya.
Belakangan ini, Arifin mengaku semakin sulit menghabiskan seluruh dagangannya. Jika sebelumnya stok sering ludes terjual, kini masih ada sisa hingga waktu berjualan berakhir.
Menurutnya, hampir seluruh bahan dan perlengkapan usaha mengalami kenaikan harga. Mulai dari telur, tepung, hingga gelas plastik yang digunakan untuk menyajikan pentol kuah.
"Sekarang hampir semua bahan naik. Harga telur sekitar Rp2.400 sampai Rp2.500 per butir, tepung bisa Rp15 ribu per kilogram. Gelas plastik juga naik cukup tinggi, dari Rp9 ribu menjadi Rp15 ribu," ungkapnya.
Walaupun biaya produksi terus meningkat, Arifin tetap mempertahankan harga jual pentol kuahnya sebesar Rp10 ribu per porsi. Harga tersebut tidak pernah berubah sejak pertama kali ia berjualan di Ketapang.
Ia memilih langkah tersebut demi menjaga loyalitas pelanggan yang selama ini menjadi penopang usahanya.
"Sejak tahun 2011 sampai sekarang tetap Rp10 ribu per porsi. Kalau dinaikkan, saya khawatir pelanggan justru berkurang," tuturnya.
Arifin berharap harga bahan pokok dan kebutuhan usaha dapat kembali stabil agar pedagang kecil memiliki ruang usaha yang lebih baik dan tidak terbebani biaya yang terus meningkat.
Baginya, gerobak pentol kuah bukan sekadar sarana mencari nafkah. Dari usaha itulah ia mampu menghidupi keluarga selama bertahun-tahun dan mempertahankan kehidupan di tanah perantauan.
Setiap menjelang Lebaran, Arifin selalu menyempatkan diri pulang ke Semarang untuk berkumpul bersama anak, cucu, dan keluarga besarnya. Setelah itu, ia kembali ke Ketapang untuk melanjutkan rutinitas yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari satu dekade.
Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga yang terus terjadi, Arifin tetap memilih bertahan. Ia terus menjaga cita rasa dagangannya, mempertahankan pelanggan, serta memelihara harapan dari usaha pentol kuah yang harganya tak berubah selama 15 tahun.***(red)
REKOMENDASI
- Memuat artikel...