Ikuti kami:
Sejumlah truk angkutan barang terparkir di kawasan Kota Ketapang. Para sopir mengaku belum mengetahui kebijakan biodiesel B50 dan berharap akses solar bersubsidi dipermudah.
Bagi sopir angkutan barang, kelancaran memperoleh bahan bakar jauh lebih penting dibanding perubahan komposisi biodiesel. Mereka berharap kebijakan baru yang akan diterapkan pemerintah tidak berdampak pada semakin sulitnya akses terhadap solar.
Salah seorang sopir truk di Ketapang, Syakir, mengaku baru pertama kali mendengar istilah B50 ketika ditanya mengenai kebijakan tersebut. Hingga kini, ia belum pernah memperoleh informasi ataupun sosialisasi terkait penggunaan biodiesel dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati itu.
"Kalau soal kebijakan B50 saya tidak tahu, Bang. Memang belum pernah dengar," katanya saat ditemui, Senin (29/6/2026).
Menurut Syakir, persoalan yang paling dirasakan para sopir saat ini bukanlah perubahan jenis bahan bakar, melainkan proses mendapatkan solar bersubsidi yang masih cukup rumit. Selain wajib menggunakan barcode, pembelian juga dibatasi sehingga sopir kerap harus kembali mengisi di waktu berbeda.
"Sekarang susah, Bang. Harus antre dulu baru dapat. Itu pun dijatah cuma Rp150 ribu. Pakai barcode juga, kalau tidak ada barcode tidak boleh isi," ujarnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan baru, tetapi juga memperbaiki sistem distribusi solar agar lebih mudah diakses oleh sopir angkutan barang yang setiap hari bergantung pada bahan bakar tersebut.
"Harapan kami sederhana saja, jangan dipersulit. Masuk SPBU bisa langsung isi penuh tanpa antre lama. Kalau solar mudah didapat, kerja kami juga lebih lancar," katanya.
Hal senada disampaikan sopir truk lainnya, Abu. Ia mengaku hingga saat ini belum mengetahui adanya rencana penerapan B50 karena belum pernah menerima informasi resmi mengenai kebijakan tersebut.
"Saya masih belum tahu terkait kebijakan B50 itu," ucapnya.
Meski belum memahami substansi kebijakan tersebut, Abu berharap pemerintah tetap menjamin ketersediaan solar bersubsidi di lapangan. Menurutnya, stok solar sejauh ini masih tersedia, namun proses pembeliannya membutuhkan waktu karena harus mengantre dan mengikuti pembatasan volume pengisian.
"Solar ada, tapi kita tetap harus antre dan pembeliannya dibatasi. Kalau saya sebenarnya tidak terlalu banyak butuh minyak, sekitar 20 liter sehari sudah cukup," katanya.
Abu menilai kemudahan memperoleh solar akan sangat membantu kelancaran distribusi barang sekaligus meningkatkan efisiensi kerja para sopir.
"Yang paling penting, ke depan solar lebih mudah didapat supaya kerja kami juga lebih mudah dan distribusi barang tidak terhambat," pungkasnya.
Penerapan biodiesel B50 merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Namun, di tingkat pengguna, khususnya sopir angkutan barang, sosialisasi kebijakan dinilai masih perlu ditingkatkan agar pelaksanaannya tidak menimbulkan kebingungan maupun kekhawatiran di lapangan.***(jok)
REKOMENDASI
- Memuat artikel...