Jalan kabupaten di Teluk Batang ini kian memprihatinkan—dipenuhi lumpur dan genangan, menjadi ancaman bagi pengendara roda dua.
Kerusakan yang telah berlangsung lama ini semakin parah, terutama saat musim hujan. Jalan berubah menjadi kubangan lumpur, licin, dan kerap tergenang air, membuat aktivitas warga terganggu.
Di tengah kondisi tersebut,
keterbatasan anggaran menjadi salah satu alasan belum optimalnya perbaikan. Pemerintah Kabupaten Kayong Utara diketahui mengalami pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat hingga hampir Rp200 miliar pada tahun 2026.
Namun di lapangan, warga tetap harus menghadapi dampaknya setiap hari.
Selain faktor anggaran, kerusakan jalan juga diduga kuat dipicu oleh tingginya aktivitas kendaraan bertonase berat, khususnya truk pengangkut kelapa sawit yang melintas dengan muatan berlebih.
Ironisnya, aktivitas tersebut di satu sisi menjadi penopang ekonomi masyarakat, namun di sisi lain mempercepat kehancuran infrastruktur jalan.
Kondisi ini paling dirasakan oleh pengendara roda dua, termasuk pelajar yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Tak ingin terus bergantung, warga bersama sejumlah pihak akhirnya turun tangan. Pada Sabtu (25/4/2026), Pemuda Muhammadiyah Kayong Utara berkolaborasi dengan FORKOPIMCAM, Camat Teluk Batang dan Seponti, TNI-Polri, pemerintah desa, serta masyarakat menggelar aksi gotong royong memperbaiki jalan.
Perbaikan difokuskan untuk membuka akses bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor agar tetap bisa melintas dengan aman.
Perwakilan Pemuda Muhammadiyah, Demi, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya membangkitkan kembali semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
“Selama kita merasa Kayong Utara ini milik bersama, maka kita akan terus bergerak bersama menyelesaikan persoalan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Ia menambahkan, semangat fastabiqul khairat menjadi landasan gerakan tersebut.
“Terima kasih kepada semua pihak, baik relawan maupun donatur. Semoga ini menjadi amal kebaikan yang bernilai ibadah,” tambahnya.
Apresiasi juga datang dari warga setempat. Nur Sahidin, warga Desa Banyu Abang, menyebut gotong royong ini sangat membantu masyarakat, terutama dalam menyediakan akses alternatif bagi pengguna jalan.
“Kami sangat terbantu. Tapi harapan kami, pemerintah daerah bisa segera turun tangan agar jalan ini benar-benar diperbaiki secara permanen,” katanya.
Hal serupa disampaikan Asifa, seorang pelajar yang setiap hari melintasi jalan tersebut.
“Sebelumnya susah sekali kalau hujan, jalannya licin dan berlumpur. Sekarang sudah agak mendingan. Terima kasih yang sudah bantu,” ungkapnya.
Aksi gotong royong ini menjadi solusi sementara di tengah keterbatasan. Namun masyarakat berharap pemerintah tidak menutup mata dan segera mengambil langkah konkret agar kerusakan jalan tidak terus berulang dan menghambat aktivitas warga.(red)
Komentar0