Bupati Ketapang Alexander Wilyo secara resmi menutup rangkaian Cap Go Meh 2026 yang disambut antusias ribuan warga
Perayaan tahun ini menghadirkan berbagai atraksi budaya yang memukau. Sebanyak 10 replika naga, sekitar 30 kelompok barongsai, deretan mobil hias, serta replika burung phoenix berukuran besar turut memeriahkan pawai. Iring-iringan tersebut menyita perhatian masyarakat yang memadati sepanjang rute pawai hingga acara berakhir.
Bupati Ketapang Alexander Wilyo yang hadir langsung menyaksikan jalannya pawai menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan perayaan budaya tersebut. Ia menilai, keberhasilan penyelenggaraan Cap Go Meh tidak terlepas dari kerja sama panitia, aparat keamanan, serta partisipasi masyarakat yang menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
“Perayaan Cap Go Meh ini menunjukkan bahwa masyarakat Ketapang mampu merawat tradisi sekaligus menjaga kebersamaan. Saya mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga kegiatan ini dapat berlangsung aman, tertib, dan penuh kegembiraan,” ujar Alexander Wilyo.
Ia menegaskan bahwa Kabupaten Ketapang merupakan rumah besar bagi masyarakat yang majemuk, dengan latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda. Karena itu, menurutnya, semangat saling menghormati harus terus dipelihara agar harmoni sosial tetap terjaga.
“Ketapang adalah rumah bagi kita semua. Perbedaan adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama. Ketika keamanan dan kedamaian terjaga, masyarakat dapat mengekspresikan budaya dengan penuh kebanggaan dan kebersamaan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa Kabupaten Ketapang, Susilo Aheng, menilai perayaan Cap Go Meh tahun ini memiliki makna khusus karena berlangsung berdekatan dengan momentum ibadah umat Muslim di bulan Ramadan serta menjelang perayaan Paskah bagi umat Kristiani. Kondisi tersebut, menurutnya, mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Ketapang yang menjunjung tinggi nilai toleransi.
“Situasi ini menunjukkan bahwa masyarakat Ketapang terbiasa hidup berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai. Perbedaan tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan,” ungkapnya.
Ia juga menilai Cap Go Meh kini tidak hanya dipandang sebagai tradisi keagamaan, tetapi telah berkembang menjadi warisan budaya daerah yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Cap Go Meh menjadi ruang kebersamaan sekaligus sarana edukasi budaya bagi generasi muda, agar nilai-nilai tradisi tetap terpelihara dan dikenal lebih luas,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Panitia Cap Go Meh 2026, Rahman Efendi, yang menyebut perayaan tersebut sebagai milik bersama masyarakat Ketapang. Ia menilai momentum perayaan yang berdekatan dengan Ramadan dan Paskah semakin menegaskan kuatnya nilai toleransi di daerah tersebut.
“Perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Ketapang hidup rukun dalam keberagaman. Kita bisa merayakan budaya dengan damai dan saling menghormati,” ujarnya.
Editor: jok
Komentar0