Kepala SPPI Kabupaten Ketapang, Boby Nur Haliandi, disaat menyampaikan keterangan pers ke awak media.
Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) menyatakan akan memperkuat sistem pengawasan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Kepala SPPI Kabupaten Ketapang, Boby Nur Haliandi, menjelaskan insiden diduga berkaitan dengan menu MBG yang dibagikan pada Rabu, 4 Januari 2026. Gejala keracunan baru dirasakan penerima manfaat sehari setelahnya, Kamis, 5 Januari 2026.
“Menu dikonsumsi tanggal 4 Januari, keluhan muncul keesokan harinya,” ujarnya, Jumat (6/1/2026).
Untuk memastikan penyebabnya, Dinas Kesehatan Ketapang telah membawa sampel makanan ke laboratorium guna pengujian keamanan pangan. Hingga saat ini, hasil analisis masih dalam proses.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium, jadi belum bisa disimpulkan,” katanya.
Sebagian besar korban sudah dipulangkan setelah mendapat perawatan, sementara dua pasien masih menjalani observasi lanjutan di RSUD dr Agoesdjam Ketapang.
Pada tahap awal penanganan, keselamatan korban menjadi prioritas. Puskesmas Marau menangani pasien dengan bantuan tenaga kesehatan dari puskesmas sekitar. Tenda darurat juga didirikan untuk menambah kapasitas ruang perawatan dan tempat tidur.
“Penanganan dilakukan cepat, fokus utama kami pemulihan korban,” jelas Boby.
Sebagai bahan evaluasi, SPPI menyoroti tiga unsur utama pengelola dapur SPPG — kepala dapur, ahli gizi, dan akuntan — karena memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin mutu serta keamanan makanan.
“Kelalaian sekecil apa pun bisa berdampak luas. Ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh dapur SPPG di Ketapang,” tegasnya.
Sebagai langkah disiplin, kepala dapur dan ahli gizi dapur MBG di Marau dikenai sanksi nonaktif sementara. Aktivitas dapur juga dihentikan sementara sampai proses evaluasi dan perbaikan tuntas.
Ke depan, SPPI menekankan pembenahan menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan pangan, proses pengolahan, hingga penyajian. Fasilitas dapur dan sistem manajemen juga akan diperbaiki.
“Pengawasan bahan baku harus ketat sejak awal. Peristiwa ini menjadi pengingat serius agar standar kualitas benar-benar dijaga,” tutupnya.***(jok)
Komentar0