Anggaran disebut Rp8.000 per hari, tapi paket rapel tiga hari dinilai tak sepadan. Guru di Sukadana minta pengelolaan MBG lebih transparan dan akuntabel.
Program MBG sejatinya bertujuan mendukung pemenuhan gizi siswa di sekolah. Namun, dalam praktiknya, sejumlah pihak mempertanyakan kualitas dan kuantitas makanan yang diterima.
Seorang guru yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa paket makanan yang diterima untuk tiga hari dinilai jauh dari ekspektasi.
“Miris, tidak sesuai sekali. Ini rapel tiga hari, tapi yang diterima hanya seperti itu. Bukan tidak bersyukur, tapi rasanya jauh dari nilai yang disebutkan,” ujarnya kepada awak media di Sukadana, Senin (23/02).
Menurut keterangan yang dihimpun, alokasi anggaran per siswa disebut sebesar Rp8.000 per hari. Jika diakumulasikan untuk tiga hari, totalnya mencapai Rp24.000. Namun, secara kasat mata, makanan yang dibagikan dinilai tidak mencerminkan nilai tersebut.
Guru tersebut juga mengaku menerima informasi bahwa sebagian anggaran digunakan untuk kebutuhan operasional.
“Katanya ada potongan untuk biaya operasional atau bayar ini-itu. Tapi kami tentu berharap tetap ada kesesuaian antara anggaran dan makanan yang diterima anak-anak,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk menolak program, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar pelaksanaan MBG benar-benar sesuai tujuan awalnya.
“Kami mendukung program ini karena tujuannya baik. Justru karena itu, kami berharap pengelolaannya transparan dan sesuai aturan,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kayong Utara saat dikonfirmasi belum memberikan keterangan resmi.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap ada penjelasan terbuka dari pihak terkait guna memastikan tata kelola anggaran berjalan sesuai ketentuan. Transparansi dinilai penting agar program pemenuhan gizi siswa tetap tepat sasaran dan tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyaraka. ***(tim)
Komentar0